Landasan Kurikulum

Label:

Kurikulummerupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadapseluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalampendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapatdilakukan secara sembarangan.
Penyusunan kurikulum membutuhkanlandasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikirandan penelitian yang mendalam. Penyusunankurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibatfatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya,akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata(1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum,yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmupengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akandiuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.
1.Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalampengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan,kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme,essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme.Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran –aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep danimplementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepadapemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isidari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangankurikulum.
a.Perenialisme lebih menekankan padakeabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budayadan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dankurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganutfaham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yangtidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi kemasa lalu.
b.Essensialisme menekankan pentingnyapewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan padapeserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna.Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagaidasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup dimasyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebihberorientasi pada masa lalu.
c.Eksistensialisme menekankan padaindividu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untukmemahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran inimempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
d.Progresivisme menekankan padapentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik,variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasanbagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e.Rekonstruktivisme merupakan elaborasilanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradabanmanusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentangperbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivismelebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dansejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis,memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran inimenekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pastimemiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalampraktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderungdilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan danmengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya diIndonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalampengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan padafilsafat rekonstruktivisme.
2.Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997)mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasaripengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2)psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yangmempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya.Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan,pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugasperkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubunganperkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahanpertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajarmerupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteksbelajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar danteori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnyadalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangansekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan landasanpsikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yangmendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiranSpencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwakompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yangmerupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif danatau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.
Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :
a.motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
b.bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
c.konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
d.pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
e.keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyaiimplikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia ataupendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak padapermukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motiflebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadianseseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebihmudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjaminkemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulituntuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002)menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik,Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dankarakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam KurikulumBerbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2)perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan pesertadidik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
3.Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suaturancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukanpelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikanmerupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkunganmasyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namunmemberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untukhidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat,mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkunganmasyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupanmasyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadilandasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusiayang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justrumelalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangunkehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun prosespendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik,kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakatmasing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengaturpola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satuaspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilaiyang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat.Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atausegi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakatmaka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembangsehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan danpenyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitarmasyarakat.
Israel Scheffer (Nana SyaodihSukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusiamengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang danmembuat peradaban masa yang akan datang.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnyamempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial –budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasionalmaupun global.

4.Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan danteknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejakabad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuanteori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikankedepannya akan terus semakin berkembang
Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakansesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akanmenganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan,tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi padapertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan danNeil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kakidi Bulan.
Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam duadasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihijangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat padapergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukankeseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupanyang berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuansekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajarsepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan danketerampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih,sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuanmeta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimanabelajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilaipengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatifterhadap ketidakpastian..
Perkembangan dalam bidang IlmuPengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dankomunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karenaitu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi lajuperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didikdapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan danteknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.
Sumber Bacaan
Daeng Sudirwo. 2002 Otonomi Perguruan Tinggi Hubungannya dengan Otonomi Daerah. Manajerial. Vol .01. No1:72-79
Deddiknas. 2003. Standar Kompetensi Bahan Kajian; Pelayanan ProfesionalKurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang.
________. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif; PelayananProfesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang
________. 2003. Penilaian Kelas; Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang.
E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. 2004. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya
Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2007
Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran.2002. Kurikulum danPembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi PendidikanFakultas Ilmu Pendidikan UPI.
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek

Comments (0)

Poskan Komentar