Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan

Label:

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI UPAYA GURU DALAM MENCIPTAKAN SISWA AKTIF
DI SEKOLAH DASAR NEGERI 120/V TUNGKAL HARAPAN





SKRIPSI




Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Guna
Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
Dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan
Pendidikan Agama Islam















Disusun Oleh:


HUSNUL ATIAH
NIM : 06.25.618



MAHASISWA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
( STAI ) AN – NADWAH KUALA TUNGKAL
KOPERTAIS WILAYAH XIII
J A M B I
2009/2010


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Untuk mencapai tujuan pendidikan dibutuhkan seorang pendidik yang mampu dan berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi generasi yang kita harapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa. Untuk itu sebuah lembaga pendidikan formal mempunyai tanggung jawab atas tujuan tersebut dengan mengoptimalkan sumber daya manusia baik dari kalangan pendidik maupun pengelola.
Proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik apabila seorang pendidik mampu mengatur waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin. Maka seorang guru harus mampu mengelola proses pembelajaran sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Dengan demikian dimungkinkan untuk mengidentifikasi empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang guru sebagai manajer adalah:
1. Merencanakan. Ini pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar
2. Mengorganisasikan. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan pembelajaran dengan cara yang paling efektif dan efisien.
3. Memimpin. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan siswanya, sehingga mereka akan siap untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.
4. Mengawasi. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan.
Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar harus mampu mewujudkan pembelajaran yang aktif, artinya peserta didik diikutsertakan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Dan diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan mental peserta didik dalam proses belajar mengajar, peserta didik dalam aspek emosional, spiritual dan intelektualnya. Selain itu guru harus mampu menjadi mitra belajar bagi peserta didik, peserta didik akan belajar kalau guru juga belajar. Guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang dapat mendorong prakarsa, motivasi dan tanggung jawab peserta didik dalam suasana yang aktif, sehingga pembelajaran akan mudah dipahami dan berpusat pada peserta didik.
Kegiatan belajar peserta didik juga harus memiliki kaitan dengan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran akan menarik jika memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik serta difasilitasi oleh guru agar peserta didik tertantang untuk menerapkannya.
Kita ketahui bahwa pembelajaran merupakan proses yang melibatkan manusia secara orang-perorang sebagai satu kesatuan organisasi, sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Walaupun telah lama kita menyadari bahwa pembelajaran memerlukan keterlibatan siswa secara aktif, tapi kenyataannya masih menujukkan kecenderungan yang berbeda. Dalam proses pembelajaran masih nampak adanya kecenderungan meminimalkan peran dan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak berperan dan terlibat secara pasif, mereka lebih banyak menunggu sajian dari guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan serta sikap yang mereka butuhkan, apabila kondisi pembelajaran yang memaksimalkan peran dan keterlibatan guru serta meminimalkan peran dan keterlibatan siswa itu terjadi pada pendidikan dasar termasuk sekolah dasar akan mengakibatkan pembelajaran menjadi monoton, satu arah dan kurang memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan dalam mengelola kelasnya. Kekakuan yang ada dalam pembelajaran akan melahirkan pola pikir anak yang tidak berkembang, terbatas, dan bahkan menghambat kreatifitas anak. Bakat dan potensi anak semestinya dapat dikembangkan bukannya ditekan dan dimatikan.
Adapun konsep pembelajaran di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan menerapkan konsep pendidikan integratif dengan pendekatan joyful learning. Sebuah konsep pembelajaran yang berporos pada kepentingan siswa, kecapakan hidup (skill life), serta kenyamanan siswa. Lewat pembelajaran joyful learning anak akan belajar dalam suasana bermain. Semua materi pelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan perkembangan psikologis anak. Setiap topik pelajaran dibahas secara komprehensif dari berbagai dimensi sesuai dengan taraf pikir anak, misalnya mengkaji buah sawo di kebun hidroponik, mencermati ikan dikolam akan mengantarkan anak pada mata pelajaran, matematika, IPA, IPS, Akhlaq hingga Tauhid. Mengajak siswa mengamati anak ayam yang baru menetas jelas tidak hanya membutuhkan pemahaman ilmu pengetahuan tetapi juga menyaksikan peristiwa ke-Mahakuasaan Allah.
Kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan setiap kelas di huni 24 siswa dengan dua orang guru. SD ini memang menganut konsep kelas kecil agar setiap anak mendapat perhatian sebaikbaiknya. Guru lebih berperan sebagia "teman" dan fasilitator. Disamping guru kelas di SD ini, juga dilengkapi dengan guru berkeahlian khusus. Manajemen pembelajaran PAI di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan berorientasi pada pengembangan kecakapan kognitif. Diantaranya dengan sorogan pada saat mengaji atau menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Teknik pembelajaran yang berorientasi pada psikomotor diantaranya : drill dan practice berlatih dan mempraktekkan seperti pada materi melafalkan huruf Al-Qur'an, berwudlu dan praktek shalat. Sedangkan teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai (afektif) yakni mengukur aspek afektif melalui portofolio dan bentuk rapor.
Demikian juga evaluasinya tidak hanya mengukur aspek kognitif (pengetahuan) saja tetapi juga sikap dan psikomotor lewat portofolio dan bentuk rapor yang khusus maka banyak aspek bisa dievaluasi demi pengembangan potensi anak secara maksimal. Belajar bahasa Inggris sebagai daily language dilakukan sejak dini, sehingga ketika tamat SD siswa sudah mampu berkomunikasi delam bahasa Inggris sederhana. Sedang bahasa arab diarahkan untuk wahana pemahaman ayat-ayat al-Qur'an sebagai tuntunan hidup.
Berangkat dari permasalahan itulah sehingga penulis menjadikannya sebagai judul “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana manajemen pembelajaran PAI dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
2. Apa upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
3. Apa kendala dan permsalahan yang dihadapi dan upaya pemecahannya dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui manajemen pembelajaran PAI sebagai upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
b. Untuk mengetahui upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
c. Untuk mengetahui kendala dan permsalahan yang dihadapi dan upaya pemecahannya dalam menciptakan siswa aktif pada pembelajaran PAI di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
2. Kegunaan Penelitian
a. Untuk mengetahui manajemen pembelajaran PAI sebagai upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan.
b. Untuk mengetahui upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan.
c. Untuk mengetahui kendala dan permsalahan yang dihadapi dan upaya pemecahannya dalam menciptakan siswa aktif pada pembelajaran PAI di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan.
d. Untuk memenuli salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana starat satu (S.1) dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam pada STAI An-Nadwah Kuala Tungkal.

D. Kerangka Teoritis
1. Tinjauan Tentang Manajemen Pembelajaran PAI
a. Pengertian Manajemen
Secara luas orang sudah banyak mengenal tentang istilah manajemen, hakekat manajemen secara relatif yaitu bagaimana sebuah aktivitas bisa berjalan lebih teratur berdasarkan prosedur dan proses. Secara umum dikatakan bahwa manajemen merupakan proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.
Dua pelopor uama yang selalu disebut dalam semua literatur tentang mana jemen adalah Frederick W. Taylor di Amerika Serikat dan Heri Fayol di Perncis. Kedua plopor tersebut adalah Sarjana Teknik. Sejarah telah mencatat pula bahwa seiring dengan bertumbuhnya berbagai bentuk organisasi, maka banyak ilmuwan yang menaruh minat pada penggalian dan penumbuhan teori manajemen yang, digabung dengan pengalaman makin banyak orang, semakin menimbulkan kesadaran bahwa manusia dalam organisasi apapun tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai mesin. Dengan perkataan lain semakin disadari bahwa sumber daya manusia idak dapat disamakan dengan alat-alat produksi lainnya.
Para pakar Administrasi Pendidikan seperti Sergiovanni, Burlingame, Coombs, dan Thurston (1987) dalam Ibrahim Bafadal mendefinisikan manajemen sebagai “process of working with and through others to accomplish organizational goals efficiently, yaitu proses kerja dengan dan melalui (pendayagunaan) orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien”. Oleh karena definisinya itu, banyak pakar administrasi pendidikan yang berpendapat bahwa manajemen itu merupakan proses, terdiri atas kegiatan-kegiatan dalam upaya mencapai tujuan kerjasama (administrasi) secara efisien.
Gaffar dalam E. Mulyasa mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik, dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Atas dasar uraian diatas, kajian tentang hakikat manajemen, selain ditinjau dari definisinya sebagaimanan dikemukakan diatas, juga perlu dikaji lebih lanjut dari; (1) proses atau langkah-langkah manajemen, dan (2) tujuan manajemen.
Menurut Gorton dalam Ibrahim Bafadal manajemen itu pada hakikatnya merupakan proses pemecahan masalah, sehingga langkah-langkah manajemen tidak ubahnya sebagai langkah-langkah pemecahan masalah. Gorton mengidentifikasikan langkah-langkah manajemen sebagai berikut:
b. Identifikasi masalah
c. Diagnosis masalah
d. Penetapan tujuan
e. Pembuatan keputusan
f. Perencanaan
g. Pengorganisasian
h. Pengkoordinasian
i. Pendelegasian
j. Penginisiasian
k. Pengkomunikasian
l. Kerja dengan kelomnpok-kelompok
m. Penilaian.
Manajemen yang sering diartikan sebagai ilmu, seni, dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai seni oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer dan para profesional dituntun oleh suatu kode etik.
b. Pengertian Pembelajaran
Konsep dasar pembelajaran dirumuskan dalam Pasal 1 butir 20 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni “Pembelajaran adalah proses intraksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam konsep tersebut terkandung lima konsep, yakni interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar.
Untuk memperoleh pengertian yang objektif tentang belajar atau pembelajaran terutama belajar disekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Menurut pengertian secara psikologis, “belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil darai intraksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku”.
James O. Whittaker dalam Syaiful Bahri Djamarah merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah selalui latihan atau pengalaman. Sementara Cronbach berpendapat bahwa “learning is shown by change in behavior as a result of experience. belajar sebagai suatu aktivitas yang ditujukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”.
Sedangkan pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya, kita menggunakan istilah “proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “intruction”. Menurut Gane, Briggs, dan Wager (1992) “Intruction is a set of event that affect learner is such a way that learning is facilitated. Pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”.
Definisi lain mengatakan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat sisiwa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Menurut kamus, pembelajaran berarti proses, cara menjadikan orang untuk makhluk hidup belajar.
Lebih jelasnya lagi Najib Sulhan dalam bukunya Pembangunan Karakter Pada Anak (Manajemen Pembelajaran Guru Menuju Sekolah Efektif) memberikan definisi pembelajaran, bahwa pembelajaran adalah suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik atau pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik atau pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
c. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)
Islam adalah doktrin agama, yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya melalui para Rasul. Dalam Islam memuat sejumlah ajaran, yang tidak sebatas pada aspek ritual, tetapi juga mencakup aspek peradaban. Dengan misi utamanya adalah sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam hadir dengan menyuguhkan tata nilai yang bersifat plural dan inklusif yang merambah ke dalam semua ranah kehidupan.
Berikut bebrapa pengetian pendidikan agama Islam yang penulis kutif dari berbagai sunber:
1) Berdasarkan rumusan Seminar Pendidikan Islam se Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian “Pendidikan Islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengasawi berlakunya semua ajaran Islam.
2) Menurut Ramayulis Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadara dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.
3) Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono “Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang lebih khusus dan ditekankan pada pengembangan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengajarkan ajaran Islam”.

4) Oemar Muhamamd Al-Toumy Al-Syaebani diartikan sebgai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan….perubahan itu ditandai dengan nilai-nilai Islami.
Definisi lain menjelaskan pembelajaran adalah seperangkat kejadian yang mempengaruhi siswa dalam situasi belajar. Sedangkan pengertian pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu siswa dalam belajar agama Islam. Dalam pembelajaran PAI harus di dasarkan pada pengetahuan siswa yang belajar dan lebih sering difokuskan bagi suatu materi ada kepentingan antara panjangnya materi pelajaran yang tercampur atau tidak tercampur dengan spesifikasi apa yang harus dimunculkan.
Pembelajaran PAI ini juga harus menjadi sesuatu yang direncanakan dari pada hanya sekedar asal jadi. Pembelajaran PAI ini akan lebih membantu siswa dalam memaksimalkan kecerdasan yang siswa miliki, menikmati kehidupan, serta kemampuan untuk berinteraksi secara fisik dan social terhadap lingkungan.
Dari pengertian manajemen dan pembelajaran diatas, dapat disimpulkan pengertian manajemen pembelajaran ialah suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan seorang guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.
2. Fungsi Manajemen Pembelajaran
Fungsi manajemen memang banyak macamnya dan selalu berkembang maju, baik dalam bentuk penambahan maupun pengurangan sesuai dengan perkembangan teori organisasi dari waktu ke waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi pada waktu bersangkutan.
Untuk mencapai tujuannya, organisasi memerlukan dukugan manajemen dengan berbagai fungsinya yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi masing-masing.
Menurut Oemar Hamalik fungsi manajemen antara lain; fungsi perencanaan, pengerakan, pengorganisasian, koordinasi, supervisi, pemantauan, ketenangan dan penilaian serta kepemimpinan yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi itu.
Menurut E. Mulyasa fungsi poko manajemen antara adalah “perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan”. Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut dilaksanakannya keempat fungsi pokok manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang kegiatan menajemen pendidikan. Melalui manajemen sekolah diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Dari fungsi manajemen yang ada diatas, apabila dikaitkan dengan pembelajaran maka fungsi manajemen pembelajaran adalah :
a. Merencanakan, adalah pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar.
b. Mengorganisasikan adalah kegiatan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang paling efektif dan efisien.
c. Memimpin adalah kegiatan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan siswanya sehingga mereka akan siap untuk mewujudkan tujuan.
d. Mengawasi adalah kegiatan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin diatas telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan.
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbut (1991) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.
Dari pengertian manajemen pembelajaran dan fungsi manajemen pembelajaran dapat disimpulkan bahwa seorang guru dengan sengaja memproses dan menciptakan suatu lingkungan belajar didalam kelasnya dengan maksud untuk mewujudkan pembelajaran yang sudah di rumuskan sebelumnya.
3. Komponen-Komponen Sistem PAI
Jika pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, berarti pembelajaran terdiri atas beberapa komponen yang terorganisir antara lain: tujuan pembelajaran PAI, materi pembelajaran PAI, metode pembelajaran PAI, media pembelajaran PAI, dan evaluasi pembelajaran PAI. Dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi.
1) Tujuan Pembelajaran PAI
Tujuan pembelajaran PAI adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermsyarakat, berbangsa dan bernegara.
Abdul Al-Rahman Saleh Abdullah dalam bukunya “Eucational Theory a Qur’anic Outlook”, dikutip Abdul Mujib menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat dilasifikasikan menjadi empat dimensi yaitu: a) Tujuan pendidikan jasmani (al-ahdaf al jismiyah), b) tujuan pendidikan rohani (al-ahdaf al-ruhaniyah), c) Tujuan pendidikan akal (al-ahdaf al-akliyah, dan d) tujuan pendidikan sosial (al-ahdaf al-ijtimaiyah).
Sedangkan pendidikan Agama Islam disekolah bertujuan untuk meningatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermsyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
Jadi, tujuan pembelajaran PAI disini akan mampu memprediksikan kebutuhan-kebutuhan dan kesiapan pendidikan Agama Islam dalam menyiapkan sumberdaya yang diperlukan selaras dengan kebutuhan siswa, orang tua, maupun masyarakat.
2) Ruang Lingkup dan Bahan Pelajaran PAI
Runag lingkup pendidkan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
a) Hubungan manusia dengan Allah SWT
b) Hubungan manusia dengan sesama manusia
c) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
d) Hubungan manusia dengan mahluk lain dan lingkungannya.
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran pendidikan agama Islam meliputi lima unsur pokok yaitu: Al-Qur’n, Aqidah, Syari’ah, Akhlak, dan Tarikh (sejarah). Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir ruang lingkup ajaran Islam mencakup tiga domain yaitu:
a) Kepercayaan (i’tiqadiyah), yang berhubnungan dengan rukun iman, sepert inam kepada Allah SWT, malaikat, kiabullah, Rasulullah, hari kebangkitan dan takdir;

b) Perbuatan (‘amaliyah), yangterbagi dalam dua bagian: (1) masalah Ibadah, berkaitan dengan rukun Islam, seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lain yang mengatur hubungan manusai dengan Allah SWT.; (2) masalah Mu’amalah, berkaitan dengan intraksi manusia dengan sesamanya, baik perseorangan maupun kelompok seperti akad, pembelajaran, hukuman, hukumjinayah (hukum pidana dan perdaa);

c) Etika (khulukiyah), berkaitan dengan kesusilaan, budi pekerti, adab atau sopan santun yang menjadi perhiasan bagi seseorang dalam rangka mencapai kutamaan. Nilai-nilai seperti jujur (siddiq), terpercaya (amanah), adil, sabar, syukur, pemaaf, tidak tergantung pada materi (zuhud), menerima apa adanya (qana’ah), berserah diri kepada Allah (tawakal), malu berbuat buruk (haya), persaudaraan (ukhuah), toleransi (tasamuh), tolong menolong (ta’awun), dan saling menanggung (akaful), adalah serangkaian bentuk dar budi pekerti yang luhur (akhlaq al karimah).

Materi merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakala tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran (subject centered teaching). Dalam kondisi semacam ini, maka penguasaan materi pelajaran oleh guru mutlak diperlukan. Guru perlu memahami secara detail isi materi pelajaran yang harus dikuasai siswa, sebab peran dan tugas guru adalah sebagai sumber belajar.
Inti pokok ajaran agama Islam meliputi akidah (masalah keimanan) syari’ah (masalah keislaman), dan ihsan (masalah akhlak), maka desain kurikulum pendidikan agama Islam selayaknya juga diarahkan kepada tiga aspek tersebut.
Dalam penerapannya, penentuan materi pendidikan agama Islam yang mengandung tiga ajaran pokok harus memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan siswa. Pada tingkatan sekolah dasar, siswa yang belajar pendidikan Agama Islam harus memiliki karakteristik tertentu yang diharapkan setelah ia lulus dari sekolah tersebut antara lain:
a) Siswa dapat mengetahui bentuk dan tata cara pelaksanaan ibadah salat secara baik dan benar.
b) Mengenal adab sopan santun baik dalam berbicara, berpakaian aupun bertindak sesuai dengan ajaran agama Islam.
c) Memiliki sifat setia kawan, bekerja sama dan berpikir positif.
d) Peka terhadap lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat.
e) Memiliki kesadaran beragama yang kuat.
f) Mampu membedakan nilai-nilai kehidupan yang baik yang harus diikuti, dan menjauhi nilai-nilai yang tidak baik, melalui kisah-kisah teladan Nabi dan Rasul dan kisah-kisah kesesatan dari para pembangkang agama.

3) Metode Pembelajaran PAI
Metode adalah komponen yang juga mempunyai fungsi yang sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui metode yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan. Metode penjaran agama Islam ialah suatu cara menyampaikan bahan pelajaran agama Islam. Oleh karena itu setiap guru perlu memahami secara baik peran dan fungsi metode dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Dari uraian tentang metode tersebut dapat dipahami bahwa penerapan metode yang dapat dijadikan sebagai motivasi dalam proses pembelajaran di sekolah sekaligus sebagai alat pencapaian tujuan sebagaimana ayat al-Qur'an tentang metode pembelajaran dalam surat an-Nahl ayat 125:
             •     •       

Artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 16.125)

Menurut Al-Nahlawi dalam Ahmad Tafsir metode untuk menenamkan rasa iman antara lain:
a) Metode hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi
b) Metode kisah Qurani dan Nabawi
c) Metode Amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi
d) Metode keteladanan
e) Metode pembiasaan
f) Metode ‘Ibrah dan mauizah (nasihat)
g) Metode targhib (menceritaan hal yang menyenangkan) dan tahrib (cetita ancaman berbuat dosa dll).

4. Pengertian Siswa Aktif
Belajar aktif (active learning) terkait erat dengan motivasi belajar, karena adanya hubungan timbal balik diantara kedua hal tersebut untuk belajar aktif diperlukan motivasi belajar yang cukup kuat, sebaliknya belajar aktif akan menyebabkan kegiatan belajar menjadi lebih berhasil dan menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar.
Belajar menyenangkan disebut juga belajar aktif, belajar aktif adalah belajar yang menyenangkan. Karena menyenangkan, belajar menjadi alamiah, menjadi lebih cepat, menumbuhkan motivasi belajar, sehingga lebih besar kemungkinan belajar menjadi lebih berhasil. Mengingat potensi manfaat belajar aktif seperti itu, maka guru perlu mempelajari dan menguasai teknik-teknik pembelajaran aktif. Teknik pembelajaran aktif adalah teknik mewujudkan secara fisik siswa di tuntut untuk melakukan kerja individual kerja kelompok, diskusi, dan kegiatan-kegiatan gabungan dalam kesatuannya dengan metode ceramah.
Secara mental belajar aktif juga menuntut siswa untuk melakukan kegiatan kognitif yang lebih tinggi, yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi. Ciri-ciri fisik dan mental itu menumbuhkan ciri belajar aktif yang lain yaitu ciri kualitas. Ciri kualitas yang dimaksud disini adalah persistensi, keterarahan menuju tujuan dan belajar aktif kreatif. Proses pembelajaran yang seperti itu akan melibatkan siswa aktif di dalam maupun di luar kelas. Penjelasan tersebut termasuk pengertian siswa aktif.
a. Upaya Menciptakan Siswa Aktif
Dalam pembelajaran aktif, pertama-tama guru yang harus membuka jalan pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
1) Guru harus menetapkan metode yang dapat merangsang belajar aktif, misalnya penugasan individual, atau kelompok.
2) Guru harus menimulkan conceptual conflict pada diri siswa, misalnya dengan memberikan jawaban yang belum meyakinkan dengan maksud agar siswa secara aktif mencari jawaban yang pasti.
3) Guru harus menciptakan the joy of learning atau kegembiaraan belajar dengan cara menguasai teknik pembelajaran aktif, maka siswa akan dapat merasakan the joy of learning. Karena pada dasarnya orang tidak senang dalam keadaan pasif.
Dari penjelasan di atas maka seorang guru harus mengupayakan agar proses pembelajarannya menyenangkan (joyful learning). Proses pembelajaran yang menyenangkan bisa di lakukan, pertama; dengan menata ruangan yang bagus dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur-unsur keindahan, misalnya cat tembok yang segar dan bersih, bebas pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media, dan sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.
Dalam memulai kegiatan belajar mengajar, seorang guru sangat perlu menjadikan siswa aktif semenjak awal. Jika tidak, kemungkinan besar kepasifan siswa akan melekat seperti semen yang butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Pada saat awal dari kegiatan belajar aktif, ada beberapa strategi yang harus digunakan, diantaranya:
1) Strategi belajar tuntas
Strategi belajar tuntas (mastery learning) adalah suatu strategi pengajaran yagn diindividukan dengan menggunakan pendekatan kelompok (group based approach). Pendekatan ini memungkinkan para siswa belajar bersama-sama berdasarkan pembatasan bahan pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa sampai tingkat tertentu, penyediaan waktu yang cukup, dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Perencanaan program belajar tuntas berdasarkan asumsi bahwa sebagian besar siswa dapat belajar dengan baik. Perencanaan belajar tuntas disusun dengan langkah- langkah sebagai berikut:
- Merumuskan tujuan bidang pengajaran
- Mempersiapkan alat evaluasi
- Menjabarkan atau memecahkan bahan pelajaran menjadi urutan unit-unit pelajaran yang kecil.
- Menyusun tes diagnostik kemampuan belajar untuk memperoleh informasi atau balikan bagi guru dan siswa tentang perubahan yang terjadi sebagai hasil pengajaran sebelumnya sesuai dengan unit pelajaran.
- Mengembangkan prosedur koreksi dan umpan balik bagi setiap unit pelajaran.
- Mengembangkan suatu himpunan materi pengajaran alternatif atau learning corrective, sebagai alat untuk mengoreksi hasil belajar, yang bersumber pada setiap pokok uji satuan tes.
- Setiap siswa harus menemukan kesulitannya sendiri dalam mempelajari bahan pengajaran.

Berdasarkan perencanaan yang telah dipersiapkan, guru mulai melaksanakan belajar tuntas di kelasnya. Bila kelas itu belum biasa menggunakan prosedur belajar tuntas kepada para siswa dengan maksud memberikan motivasi, menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri dan memberikan petunjuk awal.
5. Manajemen Pembelajaran PAI sebagai Upaya Menciptakan Siswa Aktif.
Kerangka teoritik tentang hubungan manajemen pembelajaran PAI dengan upaya guru dalam menciptakan siswa aktif. Dari kerangka di atas dapat dijelaskan bahwa manajemen pembelajaran merupakan suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan seorang guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya bila terjadi gangguan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam pembelajaran PAI, proses pembelajaran PAI tidak hanya proses interaksi guru dan murid di dalam kelas. Seorang guru harus mengelola pembelajaran PAI di antaranya: mampu merencanakan untuk menyusun tujuan pembelajaran PAI, selanjutnya tugas seorang guru adalah melaksanakan interaksi belajar-mengajar untuk memotivasi dan menstimulasi siswanya sehingga mereka siap untuk menerima pembelajaran PAI dari guru. Untuk kegiatan berikutnya seorang guru harus mampu menyusun program tindak lanjut hasil penilaian untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengelola pembelajaran PAI telah berhasil atau belu.
Seorang guru mengupayakan agar proses belajar mengajar menjadi aktif dan menerapkan beberapa strategi diantaranya active learning. Misalnya belajar cut card (menyusun potongan gambar) seorang guru memilih materi belajar melafalkan surat-surat pendek. Tugas guru memberi pilihan terhadap siswa untuk memilih surat-surat pendek, dan membagi sesuai dengan jumlah siswa. Setelah itu bentuklah kelopok-kelompok, setiap kelompok wajib membuat potongan surat al fi’il atau surat yang lain. Sedangkan kelompok lain menyusun potongan surat pendek dan berdiskusi. Pembelajaran seperti di atas dilakukan dengan berbagai interaksi baik di lingkungan kelas maupun di luar kelas.
Gurunya yang terampil dan penuh tanggung jawab akan selalu berusaha menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan menjadikan siswanya lebih aktif. Tidak dapat diragukan lagi bahwa pengetahuan guru dalam mengelola kelas ataupun pembelajaran sangat diperlukan. Oleh karena itu guru harus dapat memilih strategi yang tepat untuk membangkitkan semangat belajar siswa. Maka dari itu salah satu usaha yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan siswa aktif adalah dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas. Jadi hubungan manajemen pembelajaran PAI dengan upaya guru dalam menciptakan siswa aktif sangat erat kaitannya.

E. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya kesalahan persepsi dalam memahami judul penelitian ini, maka perlu ditegaskan istilah tentang manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai upaya guru dalam menciptakan siswa aktif di SD Negeri 120/V Tungkal Harapan sebagai berikut:
1. Manajemen
Manajemen disini adalah manajemen pendidikan atau pembelajaran. Gaffar (1989) dalam mulyasa mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik, dan komperhensif dalam rangkak mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Manajaemen dapat pula diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.
2. Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang lebih khusus dan ditekankan pada pengembangan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengajarkan ajaran Islam.
Jadi manajemen pembelajaran PAI disini dimaksudkan bahwa seorang guru dengan sengaja memproses dan menciptakan suatu lingkungan belajar di dalam kelasnya dengan maksud untuk mewujudkan tujuan pembelajaran agar dapat berhasil dengan baik dan berjalan dengan lancar.
3. Upaya Guru
Upaya guru adalah usaha guru yang harus dilakukan untuk menyampaikan materi kepada siswa.
4. Siswa Aktif
Siswa aktif adalah bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Siswa Aktif di SD Negeri Nomor 120/V Tungkal Harapan” adalah suatu proses yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengawasi sumber belajar agar peserta didik dapat menjadi yang lebih aktif dalam proses pembelajaran.


Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 197
Lexy J. Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosdakarya, 2009), cet XXIII, hlm. 236
Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hlm. 29
Lexy J. Moeleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), cet. XXVI, hlm. 9-10
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitia, Edisi Revisi, (Yogyakarta : Rineka Cipta, 2006), cet. XIII, hlm. 114
Sumardi Suryosubroto, Metodologi Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1983), hlm. 83
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitia Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), cet. XIII, hlm. 99
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), Cet. 26, hlm. 224
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif Dilengkapi Contoh Proposal dan Laporan Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2008), cet. 4, hlm. 67
Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Renika Cipta, 2004), cet. IV, hlm. 39
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Edisi Revisi VI, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), cet. XII, hlm. 229
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif Dilengkapi Contoh Proposal dan Laporan Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2008), cet. 4, hlm. 82
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1994), cet. XXVII, hlm. 42.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi. (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2006), Cet. XIII., hlm.141
Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1990), hlm. 103
Lexy. J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: Rosdakarya, 2009), cet. XXVI, hlm. 330

Comments (0)

Poskan Komentar