Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin Kecamatan Pengabuan

Label:

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan akhlak merupakan permasalahan utama yang selalu menjadi tantanga manusia dalam sepanjag sejarahnya. Sejarah bangsa-bangsa baik yang diabadikan dalam al-qur’an seperti kaum ‘Ad, Samud, madyan, dan Saba maupun yang didapat dalam buku-buku sejarah menunjukkan bahwa suatu bangsa akan kokoh apabila akhlaknya kokoh dan sebaliknya suatu bangsa akan runtuk apabila akhlaknya rusah.
Terpuruknya bangsa dan negara Indonesia dewasa ini, tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi melainkan juga oleh krisis Akhlak. Oleh karena itu, perekonomian bangsa menjadi ambruk, korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa merajalela. Perbuatan- perbuatan yang merugikan dimaksud adalah perkelahian, perusakan, perkosaan, minuman-minuman keras, dan bahkan pembunuhan.
Apabila suatu bangsa (umat) itu telah rusak, maka hal ini juga akan mempengaruhi akhlak generasi-generasi mendatang. Terlebih lagi kalau rusaknya akhlak tersebut tidak segera mendapat perhatian atau usaha untuk mengendalikan dan memperbaikinya. Bagaimanapun akhlak dan perilaku suatu generasi itu akan sangat menentukan terhadap akhlak dan perilaku umat-umat sesudahnya. Oleh karena itu, tidak salah apa yang telah disampaikan oleh para ahli pendidikan bahwa perkembangan pribadi itu akan sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama berupa pendidikan. Dijelaskan bahwa manusia yang baik adalah manusi ayang memiliki lima syarat utama atau memenuhi empat syarat pokok, yaitu akhlak, amal, asih, arif dan ahli.
Contoh-contoh lain yang terjadi pada anak didik seperti tawuran pelajar, kebiasaan membolos, menyontek, kemalasan, ketidak disiplinan, ketidak jujuran, kenihilan jiwa menolong, ketidak hormatan terhadap orang tua atau guru dan sebagainya. Keadaan seperti itu mengacu pada kesamaan inti permasalahan, yaitu rapuhnya fondasi morality.
Moralitas kebangsaan kita saat ini berada pada titik terendah. Terutama krisis akhlak terjadi karena kesalahan dunia pendidikan atau kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda bangsanya. Bila dikaitkan dengan tujuan pendidikan Islam yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga tujuan pokok, yaitu keagamaan, keduniaan dan ilmu untuk ilmu. Tiga tujuan tersebut terinteregasi dalam satu tujuan yang disebut tujuan tertyinggi pendidikan Islam, yaitu tercapainya kesempurnaan insani. Tujuan ini hanya dapat terealisasi dengan pendekatan diri kepada Allah serta hubungan terus-menerus antara individu dan penciptanya. Inilah inti dasar akhlaki pendidikan Islam.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional mempunyai fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Oleh karena itu pembinaan pribadi-pribadi adalah hal yang terpenting dalam masyarakat Islam, terutama pembinaan akhlak pada usia anak. Mengingat betapa pentingnya pendidikan Akhlak sejak dini bagi anak maka perlu adanya penanaman nilai-nilai keagamaan semenjak anak-anak, dengan ajaran yang benar sesuai dengan tuntunan agama yaitu al-Quran dan sunnah Nabi. Sarana yang paling tepat untuk pembinaan dan pembentukan kepribadian manusia adalah melakukan pendidikan.
Dalam lembaga pendidikan, tanggung jawab pendidikan Akhlak dan pendidikan lainnya untuk anak didik atau siswa dipegang oleh semua pendidik atau guru. Oleh karena itu, pembinaannya harus dilakukan oleh semua guru. Guru perlu memiliki kemampuan dalam proses pembelajaran, disamping kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan.
Kemampuan dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan profesional. Guru perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa.
Bentuk pendidikan Akhlak di lembaga pendidikan salah satunya adalah dengan pembelajaran Akhlak. Dalam pembelajaran Akhlak terdapat beberapa komponen, komponen-komponen utama pembelajaran Akhlak tersebut adalah tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, metode pembelajaran, alat pembelajaran dan penilaian. Dari komponen-komponen tersebut yang menjadi objek adalah metode mengajar.
Adapun metode yang dipandang tepat dalam pembentukan al-Akhlak al-karimah adalah dengan metode keteladanan. Metode keteladanan yaitu suatu metode dengan cara memberikan contoh atau teladan yang baik. Metode ini sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran Akhlak, untuk itu guru hendaknya menjadi teladan utama bagi murid-murid dalam segala hal, misalnya kelembutan dan kasih sayang, banyak senyum dan ceria, lemah lembut dalam tutur kata, disiplin ibadah dan menghias diri dengan tingkah laku sesuai dengan misi yang diembannya. Pengajaran dan keteladanan merupakan metode asasi bagi terbentuknya keutamaan dan akhlak. Prinsip ini terlihat dari perilaku Rasulullah SAW yang bernilai edukatif akhlaki.
Berangkat dari kerangka pikir di atas maka penulis merasa tertarik untuk meneliti sebuah Madrasah Tsanawiyah yaitu Madrasah Tsanawiyah Mimbatul Akhlak yang terletak diwilayah Parit 14 Desa Parit Pudin Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Madrasah ini merupakan suatu MTs yang termasuk berkualitas cukup baik. Hal ini terbukti dari input dan outputnya. Untuk menghasilkan output yang baik itu tentunya mengalami proses pembelajaran yang baik. Adapun hal-hal yang mendasari penulis untuk mengangkat topik penelitian yang berjudul: “Penerapan Metode Keteladanan Dalam Pembelajaran Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin Kecamatan Pengabuan”, karena penulis merasa tertarik untuk meneliti masalah tersebut dan sejauh pengetahuan penulis dilokasi penelitian tersebut belum pernah dilakukan penelitian mengenai masalah ini.

B. Poko – Pokok Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis kemukakan diatas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak
2. Bagaimana penerapan metode keteladanan dalam pendidikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak.
3. Faktor apa saja yang menjadi penunjang dan penghambat penerapan dalam metode keteladanan pendidikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin.
b. Ingin mengetahui bagaimana penerapan metode keteladanan dalam pendidikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin.
c. Ingin mengetahui faktor apa saja yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penerapan metode keteladanan pendidikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin.
2. Kegunaan Penelitian.
Adapun kegunaan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Dengan diketahui metode keteladanan yang cocok dan sesuai, agar dapat diterapkan dan dilaksanakan di MTs Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin.
b. Dengan diketahuinya faktor yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penerapan metode keteladanan penddikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak kiranya dapat diambil contoh dan i’tibar dari permasalaha tersebut, sehingga MTs Mimbatul Akhlak dapat menjadi stikeholder dan lebih pro aktif dalam menangani tersebut.
c. Dengan diketahuinya permasalahan dilapangan, paling tidak MTs Mimbatul Akhlak kedepannya dapat menuai solusi yang jitu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penerapan metode keteladanan pendidikan Akhlak.
d. Sebagai memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana strata satu (S.1) dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidika Agama Islam pada STAI An-mahwah Kuala Tungkal.

D. Kerangka Teoritis
Pendidikan merupakan persoalaan penting bagi semua umat. Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. Memang pendidikan merupakan alat untuk memanjukan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka.
Dalam masyarakat Barat kata akhlak sering diidentikkan dengat etika. Akhlak menurut bahasa berarti tingkal laku, perangai atau tabiaat sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk, mengatur pergaulan manusia dan menentukan tujuan akhir dari usaha dan pekerjaan.
Dari sudut kebiasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar (bentuk infenitif) dari kata “akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (Kelakuan, tabi’at, watak asar) al-‘adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).
Banyak pendapat lain yang dikemukakan para ahli tentang struktur agama Islam, antara lain Syekh Mahmud Syaltout menyebutkan bahwa ajaran Islam itu terdiri atas aqidah dan syariah, sementara Hasbi As-Shidiqi menyebutkan I’tikad, akhlak dan amal shaleh.
Aqidah, syariah dan akhlak merupakan tiga hal yang tak bisa dipisahkan. Dalam prakteknya ketigannya menyatu secara utuh dalam peribadi seorang muslim.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa, hakikat pendidikan akhlak adalah inti pendidikan semua jenis pendidikan karena ia mengarahkan pda terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi kedalam bagian mata pelajaran atau lembaga.
Dalam proses belajar mengajar, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengajaran yang salah satunya dapat memberi petunjuk tentang apa yang akan dikerjakan oleh seorang guru. Dari sini guru harus mempersiapkan diri dari bahan yang akan diajarkan nanti saat di kelas yang sesuai dengan karakter pelajaran yang tentunya akan diterapkan dalam proses belajar mengajar, Selain itu nantinya akan menentukan bentuk dari belajar anak didik.
Ada kemungkinan, bahwa apa yang diwujudkan pada diri anak berbeda dengan apa yang diharapkan menurut rencana. Adanya berbagai tafsiran tentang kurikulum tak perlu merisaukan, karena justru dapat memberi dorongan untuk mengadakan inovasi mencari bentuk-bentuk kurikulum baru. Pandangan yang berbeda-beda itu memberi dinamika dalam pemikiran tentang kurikulum secara kontinu tanpa henti-hentinya.
Ada sejumlah ahli teori kurikulum yang berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kurikuler yang formal, juga kegiatan yang tak formal. Yang terakhir ini sering disebut kegiatan kurikuler atau extrakurikuler (co-curriculum atau extra-curriculum). Kurikulum formal meliputi :
- Tujuan pembelajaran, umum dan spesifik.
- Bahan pembelajaran yang tersusun sistematik
- Strategi belajar mengajar serta kegiatan-kegiatannya
- Sistem evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai.
Kurikulum tak formal terdiri atas kegiatan-kegiatan yang juga direncanakan akan tetapi tidak berkaitan langsung dengan pelajaran akademis dan kelas tertentu. Kurikulum ini dipandang sebagai pelengkap kurikulum formal. Ada lagi yang harus diperhitungkan yaitu kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).
Dalam kurikulum pembelajaran akhlak tujuan menempati posisi penting. Karena tanpa adanya tujuan yang jelas maka arah yang diharapkan dari pembelajaran itu sendiri akan kabur dan melenceng. Dan akan memberikan arah atau petunjuk yang jelas terhadap pemilihan bahan pembelajaran, penetapan metode belajar dan alat bantunya, serta akan memberi petunjuk pada evaluasi pembelajaran.
1. Pendekatan Pembelajaran
Sistem pembelajaran merupakan suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Sesuai dengan rumusan itu, orang yang terlibat dalam sistem pembelajaran adalah siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga dalam laboratorium.
Material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur. Fasilitas dan perlengkapan terdiri atas ruangan kelas, perlengkapan audio visual, bahkan komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, penyediaan untuk praktek, belajar, pengetesan dan penentuan tingkat dan sebagainya.
Dalam proses pembelajaran, intinya adalah kegiatan belajar para siswa. Tinggi rendahnya kadar kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yang digunakan oleh guru. Ada beberapa pendapat mengenai pendekatan mengajar. Dalam hal ini Richard Anderson mengajukan dua pendekatan, yakni pendekatan yang berorientasi pada guru atau disebut teacher centered dan pendekatan yang berorientasi pada siswa atau disebut student centered.
a. Teacher centered (pendekatan berorientasi pada guru)
Pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwa tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan ditentukan oleh guru atau pengajar. Hakikat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Siswa dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan secara lisan, yang dikenal dengan istilah kuliah/ceramah/lectur.
Dalam pendekatan ini siswa diharapkan dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimilikinya melalui respon yang ia berikan pada saat diberikan pertanyaan oleh guru. Komunikasi yang digunakan guru dalam interaksinya dengan siswa menggunakan komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi.
Oleh sebab itu kegiatan belajar siswa kurang optimal, karena terbatas kepada mendengarkan uraian guru, mencatat, dan sekali-kali bertanya kepada guru. Guru yang kreatif biasanya dalam memberikan informasi dan penjelasan kepada siswa menggunakan alat bantu seperti gambar, bagan, grafik dan lainlain, di samping memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan.
b. Student centered (pendekatan berorientasi pada siswa)
Pendekatan ini sering juga disebut dengan pendekatan humanistik. Pendekatan ini mengutamakan perkembangan afektifsiswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pengajar humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut:
1) Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
2) Siswa yang diturut sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya.
3) Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, saling mempedulikan dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.
4) Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab” dan “bagaimana” mereka belajar.
5) Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
6) Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.
Dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak dapat dilakukan berbagai pendekatan. Sekolah atau guru dapat memilih mana pendekatan yang sesuai dan terbaik, dan dapat pula menggabungkan antara satu pendekatan dengan lainnya. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan yaitu internalisasi nilai-nilai budi pekerti, pengembangan pengetahuan moral peserta didik, analisis nilai, klarifikasi nilai, pembelajaran mengambil tindakan. Pendekatan-pendekatan tersebut perlu diupayakan jika sekolah atau guru menginginkan keberhasilan dalam pembelajaran akhlak. Tanpa menganggap kurang pentingnya suatu pendekatan dibanding dengan lainnya.
2. Materi Pembelajaran Akhalak
Untuk mencapai tujun yang telah dirumuskan, Ibnus Maskawaih menyebutkan beberapa hal yang perlu dipelajai, diajarkan, atau diperaktikkan. Sesuai dengan konsepnya tentang manusia.
Ibnus Maskawaih menyebut ada tiga hal pokok yang dapat dipahami sebagai materi pendidikan akhlaknya: 1) hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh, 2) hal-hal yang wajib bagi kebutuhan jiwa, dan 3) hal-hal yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia. Ketiga pokok materi tersebut menurut Ibnus Maskawaih dapat diperoleh dari ilmu-ilmu yang secara garis besar ia kelompokkan menjadi dua: 1) ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran (al-‘ulum al-fikriyyat), dan 2) ilmu-ilmu yang berkaitan indra (al-ulum al-hissiyat).
3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran diartikan sebagai cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsngnya pengajaran-pengajaran”.
Terdapat banyak metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran akhlak yang ditawarkan oleh para ahli. Masing-masing metode memiliki karakteristik khusus dan kelebihan serta kekurangan yang berbeda-beda. Dari sini maka fungsi guru dalam pemilihan dan kombinasi metode yang tepat sangat diperlukan. Beberapa metode pembelajaran yang dapat dipergunakan oleh pengajar atau guru dalam pembelajaran antara lain: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode pemberian tugas dan metode demonstrasi dan lain-lain.
Khusus bagi pembelajaran akhlak untuk anak-anak, dalam menentukan metode yang harus disesuaikan dengan materi, sebelumnya pengajar atau guru harus dapat memahami fase perkembangan moral anak-anak yang dikemukakan oleh Kohlberg sebagaimana dikutip oleh Fawziah Aswin yaitu:
- Perkembangan moral anak semata-mata didasarkan atas kepatuhan hukuman. Suatu perbuatan dinilai benar atau salah tergantung apakah perbuatan itu mengakibatkan hukuman atau tidak. Karena itu otoritas yang kuat yang dapat menghukum akan ditaati semata-mata karena dia kuat.
- Suatu perbuatan dinilai benar apabila perbuatan itu dapat memuaskan kebutuhan dirinya atau kebutuhan orang yang dekat dengan dirinya.
- Perkembangan moral lebih didasarkan atas keinginan untuk anak yang dinilai baik oleh orang lain. Pada tahap ini perkembangan disesuaikan dengan harapan orang lain agar ia dapat diterima di kalangan tersebut.
- Anak berusaha untuk berlaku sesuai dengan peraturan yang berlaku di masyarakat atau sesuai dengan peraturan dalam agama.
- Seseorang tidak sekedar mengikuti peraturan yang disepakati dan berlaku di masyarakat, tetapi mampu memberikan penilaian atas perbuatan yang dipatuhinya itu. Pertimbangan moral lebih didasarkan pada hati nurani seseorang.
Dari pemaparan diatas, maka dapat dipahami bahwa metode-metode diatas merupakan metode umum yang sering digunakan dalam pengajaran, selain metode-metode tersebut masih banyak metode-metode lain yang ditawarkan oleh para ahli yang dapat dipraktekkan pada pembelajaran akhlak. Dalam pelaksanaan pembelajaran akhlak, penggunaan dan kombinasi antara metode-metode harus dilakukan oleh pengajar atau guru. Karena metode apapun tidak akan dapat berjalan sendiri tanpa dibantu dengan metode yang lainnya.
4. Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran akhlak, media merupakan suatu yang mutlak diperlukan, dan kapasitasnya sendiri sama dengan komponen-komponen pengajaran yang lain. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipakai untuk memudahkan, mengefisienkan dan mengoptimalkan kualitas pembelajaran.
Konteksnya dalam pembelajaran akhlak maka media pembelajaran akhlak adalah media atau alat yang digunakan untuk membantu melaksanakan bahan pengajaran akhlak dari pengajar kepada siswa.
Dalam proses belajar mengajar alat peraga dan sebagainya sangat membantu dipergunakan dengan tujuan membantu gurgu agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. Alat bagi pembelajaran agama dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Alat pembelajaran klasikal
Yaitu alat-alat pembelajaran yang dipergunakan oleh guru bersama-sama dengan murid. Seperti; papan tulis, kapur, tempat shalat dan lain sebagainya.
b. Alat pembelajaran individual
Yaitu alat-alat yang dimiliki oleh masing-masing murid dan guru. Misalnya; alat tulis, buku pegangan, buku persiapan guru.
c. Alat Peraga
Yaitu alat pembelajaran yang berfungsi untuk memperjelas maupun mempermudah dan memberikan gambaran konkrit tentang hal-hal yang diajarkan.
Alat pembelajaran bidang studi akhlak dapat berupa papan tulis, media cetak, contoh-contoh kelakuan dan masyarakat sekitar. Hal ini ada benarnya, karena bagaimanapun juga contoh-contoh kelakuan dan masyarakat sekitar dapat berpengaruh pada pembelajaran akhlak.
Demi suksesnya pelaksanaan pembelajaran akhlak maka dalam pemilihan alat pembelajaran akhlak, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengajar. Beberapa hal tersebut antara lain :
a. Penyesuaian alat pembelajaran dengan tujuan belajar
b. Pengguna alat tersebut adalah pribadi yang menjiwai dan mengerti mempergunakan alat tersebut.
c. Disesuaikan dengan kondisi anak didik yang dihadapi.
Dari beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa alat pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan dalam proses pembelajaran yang dalam fungsinya sebagai pembantu dalam menyampaikan bahan pengajaran. Alat pembelajaran akhlak dapat berupa papan tulis, media cetak, contoh-contoh kelakuan dan masyarakat sekitar. Semuanya dapat dipergunakan dalam pembelajaran akhlak asalkan saja memperhatikan syarat-syarat penggunaan seperti di atas.
5. Pengertian Metode Keteladanan
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos, meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Jadi metode adalah tata cara untuk melakukan sesuatu. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “metode” adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Metode merupakan sebuah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya. Metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Makin baik metode itu, makin efektifpula pencapaian tujuan.
Dengan demikian metode merupakan sebuah jalan atau cara yang hendak ditempuh oleh seseorang untuk mencapai tujuan dengan mudah.
Sedangkan keteladanan dasar katanya “teladan” yaitu (perbuatan atau barang dan sebagainya) yang patut ditiru dan dicontoh. Dalam bahasa arab “keteladanan” diungkapkan dengan kata “uswah” dan “qudwah”. Kata “uswah” terbentuk dari huruf-huruf: hamzah, as-sin dan al-waw. Secara etimologi setiap kata bahasa arab yang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki persamaan arti yaitu “pengobatan dan perbaikan”. Jadi keteladanan merupakan sesuatu yang baik yang dapat ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain.
Dari definisi diatas, maka dapat diketahui bahwa metode keteladanan adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam proses pengajaran melalui perbuatan atau tingkah laku baik yang patut ditiru.
6. Dasar Penggunaan Metode Keteladanan
Metode keteladanan sebagai suatu metode digunakan untuk merealisasikan tujuan pengajaran dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki Akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pengajaran ibadah, Akhlak, kesenian dan lain-lain.
Al-Quran telah menandaskan pentingnya keteladanan dalam pengajaran Akhlak. Firman Allah SWT. dalam surat al-Ahzab ayat 21:
                 

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Untuk menciptakan anak yang shaleh, pengajar tidak cukup hanya memberikan prinsip saja, karena yang lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut. Sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan tanpa disertai dengan contoh teladan hanya akan menjadi kumpulan resep tak bermakna.
Sungguh tercela seorang guru yang mengajarkan suatu kebaikan kepada siswanya sedangkan ia sendiri tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini Allah mengingatkan dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 44 :
 ••          

Artinya : “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan dirimu sendiri, dan kamu membaca kitab, tidakkah kamu pikirkan”.

Dan surat Ash-Shaff ayat 2-3 :
                  

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengucapkan apa yang tidak kamu lakukan? Sangat dibenci Allah bahwa kamu ucapkan apa yang tidak kamu lakukan”.

Dari firman diatas dapat diambil pelajaran, bahwa seorang pengajar hendaknya tidak hanya mampu memberikan perintah atau memberikan teori kepada siswa, tetapi lebih dari pada itu ia harus mampu menjadi panutan bagi siswanya sehingga siswa dapat mengikuti tanpa merasakan adanya unsur paksaan. Oleh karena itu keteladanan merupakan faktor dominan dan sangat menentukan keberhasilan pengajaran.
Pengajar atau guru merupakan sebuah potret yang selalu dijadikan contoh oleh seorang siswa. Untuk itu Pengajar haruslah menjadi seorang model dan sekaligus menjadi seorang mentor bagi peserta didik di dalam mewujudkan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Sekolah tanpa guru atau pengajar sebagai model, sulit untuk mewujudkan pranata sosial (skala) yang mewujudkan nilai-nilai moral.
Dengan demikian maka metode keteladanan dipandang sangat efektif dalam pembelajaran Akhlak. Karena dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada anak didik maka mereka akan dapat berkembang baik secara fisik maupun mental dan memiliki Akhlak yang baik dan benar.
7. Prinsip-Prinsip Penggunaan Metode Keteladanan
Prinsip-prinsip pelaksanaan metode keteladanan pada dasarnya sama dengan prinsip metode pengajaran yaitu menegakkan “uswah hasanah”. Dalam hal ini Muhaimin dan Abdul Mujib, mengklasifikasikan prinsip penggunaan metode keteladanan sejalan dengan prinsip pengajaran Islam adalah:
a. Memperdalam tujuan bukan alat
Prinsip ini menganjurkan keteladanan sebagai tujuan bukan sebagai alat. Prinsip ini sebagai antisipasi dari berkembangnya asumsi bahwa keteladanan pengajar hanyalah sebuah teori atau konsep, tetapi keteladanan merupakan tujuan. Keteladanan yang dikehendaki disini adalah bentuk perilaku guru atau pengajar yang baik. Karena keteladanan itu ada 2 yaitu : keteladanan baik (uswah hasanah) dan keteladanan jelek (uswah sayyi’ah). Dengan melaksanakan apa yang dikatakan merupakan tujuan pengajaran keteladanan (uswatun hasanah).
Tujuan pengajaran Islam adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah serta berilmu pengetahuan, maka media keteladanan merupakan alat untuk memperoleh tujuan. Hal tersebut tanpa adanya praktek dari praktisi pengajar pengajaran Islam hanyalah akan menjadi sebuah konsep belaka.
b. Memperhatikan pembawaan dan kecenderungan anak didik.
Sebuah prinsip yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecenderungan anak didik dengan memperhatikan prinsip ini, maka seorang guru hendaklah memiliki sifat yang terpuji, pandai membimbing anak-anak, taat beragama, cerdas dan mengerti bahwa memberikan contoh pada mereka akan mempengaruhi pembawaan dan tabiatnya. Dengan mengetahui watak dan kecenderungan tersebut, keteladanan pengajar diharapkan memberikan kontribusi pada perubahan perilaku dan kematangan pola pikir pada anak didiknya.
c. Sesuatu yang bisa diindera kerasional
Tidak dapat dibantah bahwa setiap manusia merasa lebih mudah memahami sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca inderanya. Sementara hal-hal yang bersifat nisbi atau rasional apalagi hal-hal yang bersifat irasional, kemampuan akal sulit untuk menangkapnya. Oleh karena itu prinsip berangsur-angsur merupakan prinsip yang sangat perlu diperhatikan untuk memiliki dan mengaplikasikan sebuah metode dalam proses pengajaran.
Prinsip yang diterapkan dari pembahasan yang indrawi menuju pembahasan yang rasional ini dalam kontek keteladanan adalah keteladanan merupakan sebuah bentuk perilaku seseorang yang dapat dilihat dan ditiru. Bentuk aplikasi dari rasional atas keteladanan adalah menciptakan sebuah perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang menjunjung norma agama.

E. Definisi Operasional
Penegasan istilah dalam hal ini dimaksudkan untuk mencari kesamaan visi dan menghindari distorsi pemahaman, oleh sebab itu diperlukan beberapa penjelasan tentang istilah dan pembatasan-pembatasan yang dianggap penting dalam judul skripsi ini, yaitu :
1. Penerapan
Penerapan berasal dari kata dasar terap yang yang artinya berukir kemudian mendapat imbuhan pe-an. (imbuhan pe-an berfungsi sebagai merubah kata kerja menjadi kata benda seperti kata kerja “main” mendapat imbuhan pe-an akan menjadi kata benda “permainan”). Sehingga kata tersebut menjadi penerapan yang berarti pengenaan, perihal mempraktikkan.
2. Metode Keteladanan
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “metode” adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Artinya suatu cara metode pendidikan dan pengajaran Islam dengan cara pendidik atau guru, memberi contoh teladan yang baik kepada anak didik agar ditiru dan dilaksanakan.
3. Pembelajaran
Sedangkan menurut S. Nasution, pembelajaran adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa atau juga antara sekelompok siswa dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap serta menetapkan apa yang dipelajari itu.

4. Mata Pelajaran Akhlak
Mata pelajaran Akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran agama yang diajarkan di MTs. Mata pelajaran Akhlak meliputi Akhlak kepada Allah, Akhlak kepada sesama manusia, Akhlak kepada diri sendiri dan Akhlak terhadap lingkungan sekitar. MTs Mimbatul Akhlak, adalah salah satu lembaga pendidikan yang berciri khas Islam yang menerapkan metode keteladanan dalam pendidikan Akhlak, maka dari itu peneliti menjadikannya sebagai sumber data dan informasi tentang penerapan metode keteladanan dalam pendidikan Akhlak.
Secara garis besar dapat ditegaskan bahwa penerapan metode dalam pendidikan yang akan diangkat adalah bagaimana penerapan metode keteladanan serta faktor yang menjadi penunjang dan penghambat, dalam pendidikan Akhlak di MTs Mimbatul Akhlak Desa Parit Pudin Kecamatan Pengabuan.

Comments (0)

Poskan Komentar