UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 3 KUALA TUNGKAL

Label:

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama yang universal sudah barang tentu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari ibadah, kehidupan sosial, sampai ketingkat perilaku (ahlak). Karena itu agama sangat berperan dalam pembentukan perilaku anak, sehingga pembentukan pribadi akan membawa pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan baik. Anak memerlukan pendidikan dengan persyaratan, pengawasan, dan pemeliharaan yang terus menerus sebagai pelatihan dasar dalam pembentukan kebiasaan dan sikap agar memiliki kemungkinanan untuk berkembang secara wajar dalam kehidupan dimasa mendatang.
Setiap orang Islam pada hakekatnya adalah insan agama yang bercita-cita, berfikir, beramal untuk hidup di akhirat kelak berdasarkan atas petunjuk dari wahyu Allah melalui Rasulallah, kecenderungan hidup beragama ini merupakan ruhnya agama yang benar yang dalam perkembangannya dipimpin oleh ajaran Islam yang murni, bersumber pada kitab suci yang menjelaskan dan menerangkan tentang perkara benar (haq). Tugas kewajiban manusia untuk mengikuti yang benar, menjauhi yang batil yang kesemuanya telah diwujudkan dalam syariat agama yang berdasarkan nilai mutlak dan norma-norma yang telah ditetapkan oleh Allah yang tak berubah menurut selera nafsu manusia. Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam penuh dengan nilai rohaniah Islami dan berorientasi kepada kebahagiaan hidup di akhirat, tujuan ini difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syari’at Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju makrifat pada Allah.
Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan untuk melatih anak didiknya yang sedemikian rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, dan pendekatanya dalam segala jenis pengetahuan banyak dipengaruhi oleh nilainilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etika Islam.
Agama sangat berperan dalam pembentukan perilaku anak, sehingga pembentukan pribadi anak membaur sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak memerlukan pendidikan dengan persyaratan-persyaratan tertentu dan pengawasan serta pemeliharaan yang terus-menerus sehingga pelatihan dasar dalam pembentukan kebiasaan dan sikap memiliki kemungkinan untuk berkembang secara wajar dalam kehidupan dimasa mendatang. Untuk membina agar anak mempunyai sifat terpuji, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan yang terbaik dan diharapkan nantinya akan mempunyai sifat-sifat terpuji dan bisa menjauhi sifat yang tercela. Latihan-latihan beragama yang menyangkut seperti ibadah shalat berjama’ah, puasa, zakat, do’a-do’a dan menghafal surat pendek harus dibiasakan sejak kecil agar nantinya bisa merasakan manisnya beribadah.
Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peran pendidik sangat penting dalam proses pendidikan, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan yang bertugas sebagai pendidik, pendidik mempunyai tugas yang mulia sehingga Islam memandang pendidik mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang tidak berilmu dan orang-orang yang bukan sebagai pendidik, tetapi disamping itu orang-orang yang berilmu tidak boleh menyembunyikan atau menyimpan ilmu-ilmu yang dimilikinya.
Penghormatan dan penghargaan Islam terhadap orang-orang yang berilmu itu terbukti di dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:
                                

Artinya : “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan diantara kamu semua dengan beberapa derajat. Sesungguhnya Allah mengetahui dengan apa yang kamu kerjakan”.

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, kewibawaanlah yang menyebabkan guru itu dihormati sehingga masyarakat tidak meragukan figurnya, masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik mereka agar menjadi orang yang bisa bersifat mulia baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru mempunyai kelebihan yang tak dapat dimiliki oleh sembarang orang.
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Menjadi teladan merupakan sifat dasar kegiatan pembelajaran, dan ketika seorang guru tidak mau menerima atau menggunakannya secara konstruktif maka telah mengurangi keefektifan pembelajaran. Peran dan fungsi ini patut dipahami, dan tak perlu menjadi beban yang memberatkan sehinggga dengan ketrampilan dan kerendahan hati akan memperkaya arti pembelajaran. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan oleh guru akan mendapatkan sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Secara teoritis, menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru, sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk diteladani.

B. Pokok - Pokok Masalah
Keterangan panjang lebar dari latar brlakan masalah terhadap usia anak yang menginjak remaja dan menuju ke- kedewasaan yang telah sedikit dijabarkan diatas, melahirkan beberapa rumusan masalah dibawah ini :
1. Bagaimana upaya guru PAI dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal?
2. Apa problematika yang dihadapi guru PAI dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal?
3. Apa solusi yang dilakukan untuk mengatasi problematika yang dihadapi dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Ingin mengetahui bagaimana upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
b. Ingin mengetahui problematika yang dihadapi guru PAI dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
c. Ingin mengetahui solusi yang dilakukan untuk mengatasi problematika yang dihadapi dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
2. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat dari penulisan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
b. I Untuk mengetahui problematika yang dihadapi guru PAI dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
c. Untuk mengetahui solusi yang dilakukan untuk mengatasi problematika yang dihadapi dalam membina akhlah siswa di SMP Negeri 3 Kuala Tungkal.
d. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata satu (S.1) dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam pada STAI An-Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII Jambi.

D. Kerangka Teori
1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam
Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, pribadi susila yang cakap, memberikan sejumlah norma. Guru dalam tugasnya mendidik dan mengajar peserta didiknya adalah berupa membingan memberikan petunjuk, teladan, bantuan, latihan, penerangan,pengetahuan, pengertian, kecakapan,nilai-nilai, norma-norma, sikap dan sifat yang baik dan terpuji.
Tugas guru secara umum harus memiliki sifat kasih sayang, lemah lembut, jujur, berbudi luhur, dapat mengukur kemampuan murid, mempelajari kejiwaan murid serta penuh dengan keihklasan. Bila ini tujuan hidup manusia, maka pendidiknya pun memiliki tujuan yang sama yaitu mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku serta perasaannya berdasarkan Islam. Dengan demikian tujuan akhir pendidikan islam adalah merealisasikan ubudiyah kepada Allah didalam kehidupan manusia baik individu maupun masyarakat.
Demikianlah betapa berat tugas dan tanggung jawab guru, tugas guru agama jauh lebih berat dengan guru umum, karena disamping melaksanakan pengajaran, juga memberikan pengetahuan keagamaan, ia juga melaksanakan tugas pendidikan dan pembinaan, ia membantu pembentukan kepribadian, mengembangkan, menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan pada anak didik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru adalah orang yang pekerjaanya (mata pencaharianya, profesinya) mengajar. Secara etimologi “Guru berarti orang yang pekerjaannya mengajar”. Dalam pandangan Hadari Nawawi, “Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab serta membantu anak mencapai kedewasaan masing-masing.
Menurut M. Athiyah al-Abrasyi, guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang murid, yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan ahklak dan membenarkannya, maka menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, dengan guru itulah mereka hidup berkembang.
Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaan, mampu memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT.
Dari keterangan diatas dapat penulis simpulkan bahwa guru bukanlah orang yang sekedar memberikan materi di depan kelas, akan tetapi guru mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang bisa menganalisa, merencanakan, dan menyimpulkan berbagai masalah, serta mengantarkan anak menuju pendewasaan.
Nursed Sumaatmadja, mengemukakan bahwa “Pendidikan diartikan sebagai proses kegiatan mengubah perilaku individu ke arah kedewasaan dan kematangan”. Sementara itu, ketika kita komparasikan dengan pendidikan Islam maka, banyak sekali yang mendefinisikan PAI, antara lain dalam bukunya Tayar Yusuf menyebutkan bahwa PAI adalah usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertaqwa kepada Allah SWT.
Sedangkan pengertian Pendidikan Agama Islam ialah usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keagamaan subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Implikasi dari pengertian ini, bahwa pendidikan agama Islam merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan Islam. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan agama Islam berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan agama dengan bidang-bidang studi (pendidikan) yang lain. Hal itu lebih lanjut, Pendidikan Agama harus sudah dilaksanakan sejak dini melalui pendidikan keluarga, sebelum anak memperoleh pendidikan atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain.
Sedangkan secara detail, didalam UUSPN No.20/2003 pasal 30 yang ditegaskan lagi dalam standar kompetensi mata pelajaran PAI SMP dan MTs disebutkan dalam penjelasannya bahwa:
“Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berahklak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci al-Qur’an dan hadist, melalui bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman, dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa”.

Menurut Armai Arif, pendidikan agama Islam sebagai suatu sistem yang memungkinkan seseorang (siswa) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Artinya bahwa seorang anak (siswa) harus benar-benar menjalankan apa yang diperbuat menurut aturan yang sudah ditetapkan oleh ajaran agama.
Dari berbagai definisi diatas, dapat penulis simpulkan bahwa, PAI adalah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik kepada peserta didik dalam masa perkembangan, agar memiliki kepribadian yang mampu meyakini, memahami, menghayati, serta mengamalkan ajaranajaran Islam, dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, dan sudah menjadi tugas dan tanggung jawab guru untuk kembali menghidupkan belajar dengan kepercayaan diri, penanaman akhlak yang baik, serta mativasi yang tinggi untuk menghadapi zaman yang terus berubah karena perkembangan ilmu pengetahuan. Jika guru dapat meningkatkan keprofesionalannya maka pendidikan akan bisa ditingkatkan kualitasnya.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Secara umum, tujuan pendidikan Islam terbagi menjadi tujuan umum (dicapai dengan semua kegiatan pendidikan), tujuan sementara (dicapai setelah siswa diberi sejumlah pengalaman tertentu), tujuan akhir (dicapai agar siswa menjadi manusia sempurna atau insan kamil) dan tujuan operasional (tujuan praktis yang dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan).
Tujuan pendidikan juga termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Nomor 20 Tahun 2003, yang berbunyi: “Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peseerta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak, mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Namun, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan diatas perlu adanya pengintegrasian seluruh komponen pendidikan, dimana antara komponen yang satu dan yang lainya berkaitan. Abudin Nata, mengemukakan tentang komponen yang terdapat dalam pendidikan antara lain komponen kurikulum, guru, metode, sarana prasarana, dan evaluasi.
Adapun tujuan pendidikan menurut beberapa tokoh adalah sebagai berikut:
a. Menurut Athiyah Al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam meliputi:
1. Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia
2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
3. Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keingintahuan dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
4. Mempersiapkan tenaga profesional yang trampil.
b. Menurut M.Djunaidi Dhany, tujuan pendidikan mencakup;
1. Pembinaan kepribadian siswa yang sempurna, meliputi: pendidikan harus mampu membentuk kekuatan dan kesehatan badan serta akal.
2. Peningkatan moral, tingkah laku yang baik dan menanamkan kepercayaan anak terhadap agama dan kepada Tuhan.
3. Mengembangkan Intelegensi anak secara efektif agar mereka siap untuk mewujudkan kebahagiaan di masa mendatang.
Kemudian secara rinci dijelaskan dalam Standar Kompetensi Mata Pelajaran PAI SMP dan MTs, bahwa tujuan PAI adalah sebagai berikut:
“Pendidikan agama Islam di SMP/MTs bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT serta berahklak mulia dalam kehidupan pribadi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi”.

Inilah pendapat berbagai tokoh pendidikan berkenaan dengan tujuan pendidikan Islam, pendapat ini bukanlah bertentangan satu sama lain, melainkan berbeda pada penekanannya saja. Selain itu ada faktor lain yang barang kali turut memainkan peranan dalam perbedaan pendapat ini, yaitu aspek aplikasi yang perlu diperhatikan adalah menyangkut pengungkapan psikologis.



3. Membina Akhlak Siswa
Secara harfiah membina atau pembinaan berasal dari kata “bina” yang mempunyai arti bangun, maka pembinaan berarti membangun.
Akhlak diartikan sebagai "hal-hal berkaitan dengan sikap, perilaku dan sifat-sifat manusia dalam berinteraksi dengan dirinya, dengan sasarannya, dengan makhluk-makhluk lain dan dengan Tuhannya.
Berdasar definisi masing-masing istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud membina akhlak adalah membangun (membangkitkan kembali) psikis atau jiwa seseorang dengan pendekatan agama Islam, yang diharapkan agar seseorang memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam, sehingga terbentuknya gerak-gerik atau tingkah laku yang dinamis sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Membina akhlak mengandung pengertian suatu usaha untuk memberikan bantuan berupa bimbingan dan tuntunan tentang ajaran akhlak perilaku orang Islam kepada seseorang, agar terbentuk, memelihara, meningkatkan serta mempertahankan nilai-nilai ajaran Agama yang dimilikinya, yang dengan kesadarannya sendiri mampu meningkatkan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ketentuan dan kewajiban yang ditetapkan oleh ajaran agama. Bila dilihat dari usahanya maka membina akhlak manusia merupakan salah satu usaha atau bagian dari dakwah.
a. Metode Pembinaan Akhlak
Menurut Hussein Segaf, (1989). “Metode pembinaan akhlak dapat dilihat dari dua segi, yakni segi sasaran yang dihadapi dan sifat pembinaan. Dari segi sasaran yang dihadapi, pembinaan dapat dilakukan melalui metode individu dan kelompok”.
Metode individu (personal approach/pendekatan pribadi), karena dalam pelaksanaannya secara langsung dilakukan kepada pribadi yang bersangkutan, seperti dengan memberi nasehat, memberi penjelasan maupun dengan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan metode kelompok lebih menitik beratkan kepada komunikasi umat secara komperehensif, dengan menggunakan komunikasi massa, hal ini disebabkan karena jumlah umat yang demikian banyak memerlukan sentuhan menyeluruh dan sekaligus.
1) Keteladanan
Tanggung jawab orang tua tidaklah terbatas dalam memberikan makan, pakaian dan perlindungan saja, akan tetapi ia juga terikat dalam tugas mengembangkan pikiran dan upayaupaya untuk melatih anaknya secara fisik, spiritual, moral dan sosial. Dalam segala hal orang tua harus selalu bertindak sebagai pelindung anak. Orang tua adalah contoh pertama terhadap anaknya. Melalui mereka anak menjadi tahu arti kehidupan dan reaksi serta perilaku apa yang sebaiknya diambil selagi ia tumbuh.
Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak yang mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatanperbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik adalah seorang pembohong, pengkhianat, orang yang kikir, penakut, dan hina, maka si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina.
Al-Qur'an juga meminta kaum Muslimin untuk meneladani Ibrahim as dan orang-orang yang menyertainya dalam melepaskan diri dari kaum mereka yang musyrik. Al-Qur'anpum juga meminta Nabi Muhammad saw untuk mengikuti aqidah tauhid dan tindakan-tindakan luhur para nabi dan rasul sebelum beliau, yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT dalam surat Al-An’am ayat 6:
        ••                       

Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir dibawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”.

2) Nasehat
Termasuk metode pendidikan yang cukup berhasil dalam pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial, adalah pendidikan anak dengan petuah dan memberikan kepadanya nasehat-nasehat. Karena nasehat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak kesadaran akan hakikat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam. Karenanya, tidak heran kalau kita tahu bahwa Al-Qur'an menggunakan metode ini, menyerukan kepada manusia untuk melakukannya, dan mengulang-ulangnya dalam beberapa ayat-Nya, dan dalam sejumlah tempat di mana dia memberikan arahan dan nasehat-Nya.
Tidak ada seorangpun yang menyangkal, bahwa petuah yang tulus dan nasehat yang berpengaruh, jika memasuki jiwa yang bening, hati terbuka, akal yang jernih dan berpikir, maka dengan cepat mendapat respon yang baik dan meninggalkan bekas yang sangat dalam. Al-Qur'an telah menegaskan pengertian ini dalam banyak ayatnya, dan berulang-kali menyebutkan manfaat dari peringatan dengan kata-kata yang mengandung petunjuk dan nasehat yang tulus.
Penerapan metode nasehat dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pemberian nasehat secara langsung misalnya dalam memberikan penjelasan pada anak didik tentang nilai-nilai yang baik, kurang baik atau tidak baik. Sedangkan nasehat secara tidak langsung, misalnya melalui cerita dan ungkapan metafor. Penggunaan metode nasehat sebaiknya tidak memakai pendekatan perintah maupun larangan, dan nasehat akan lebih baik jika dilakukan secara tidak langsung, karena dengan cara ini nilai-nilai yang ditransmisikan akan lebih mengesan bagi anak didik daripada dengan perintah maupun larangan
3) Pengawasan
Para orang tua hendaknya memperhatikan apa yang dibaca anak, buku, majalah, dan brosur-brosur. Jika di dalamnya terdapat pikiran-pikiran menyeleweng, prinsisp-prinsip atheis dan kristenisasi, maka hendaknya segera merampasnya. Disamping itu, memberi pengertian kepada anaknya bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan kemurnian iman. Juga memperhatikan teman-teman sepergaulannya. Gunakanlah kesempatan untuk memberikan pengertian dan pengarahan kepada si anak. Sehingga ia kembali kepada yang hak, kepada petunjuk, berjalan pada jalan yang lurus. Tingkat SLTP adalah merupakan masa yang sangat rawan. Masa transisi seorang anak terjadi pada tingkat SLTP. Di tingkat inilah ada istilah baru yang menggantikan secara drastis istilah remaja, yaitu ABG (Anak Baru Gede). Tidak hanya keyakinan-keyakinan kita yang terpengaruh oleh faktor-faktor sosial, pola-pola ekspresi emosional kita pun, sampai batas akhir, bisa dibentuk oleh lingkungan sosial kita.
Demikianlah metode Islam dalam pendidikan dengan pengawasan. Metode tersebut, seperti yang kita lihat, adalah metode yang lurus. Jika diterapkan, maka anak kita akan menjadi penyejuk hati, menjadi anggota masyarakat yang shaleh, bermanfaat bagi umat Islam. Karenanya, hendaklah kita senantiasa memperhatikan dan mengawasi anak-anak dengan sepenuh hati, pikiran, dan perhatian.

E. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya kesamaan dan kekeliruan pemahaman atas judul diatas maka penulis memandang perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang dipergunakan dalam tema diatas, yaitu :
1. Upaya
Adalah Usaha, ihktiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dsb). Maksudnya adalah suatu usaha sadar untuk mencari jalan terbaik atau mengubah yang lebih baik. Maksudnya usaha atau kegiatan yang mengerahkan tenaga pikiran atau badan untuk memecahkan persoalan atau mencari jalan keluar
2. Guru PAI
Menurut Depdiknas guru adalah seseorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menjunjung tinggi mengembangkan agama, kebudayaan, dan keilmuan. Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai ajaran hidup (way of life).
Menurut Abdul Majid, PAI adalah :
“Usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa”.

3. Membina
Kata membina/pembinaan secara bahasa merupakan terjemahan dari kata Inggris yaitu training, yang berarti latihan, pendidikan, pembinaan. Sedangkan definisi membina dalam arti luas menurut A. Mangunhardjana, dalah :
“Suatu proses belajar dengan melepaskan hal-hal yang sudah dimiliki dan mempelajari hal-hal baru yang belum dimiliki, dengan tujuan membantu orang yang menjalaninya, untuk membetulkan dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang sudah ada serta mendapatkan pengetahuan dan kecakapan baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja, yang sedang dijalani, secara lebih efektif”.

Jadi, dapat penulis rumuskan bahwa membina merupakan segala usaha, tindakan dan kegiatan yang disertai dengan perencanaan, penyusunan, pengembangan, pengarahan, serta pengendalian, supaya tindakan tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna untuk membetulkan dan mengembangkan kecakapan orang lain dalam mencapai tujuan hidup yang lebih baik.
4. Akhlak
Akhlak diartikan sebagai "hal-hal berkaitan dengan sikap, perilaku dan sifat-sifat manusia dalam berinteraksi dengan dirinya, dengan sasarannya, dengan makhluk-makhluk lain dan dengan Tuhannya. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab merupakan bentuk jamak (plural) dari kata khuluqun yang berarti tabi`at, budi pekerti. Berdasarkan analisis semantik dari Mc. Donough, kata khuluq memiliki akar kata yang sama dengan khalaqa yang berarti menciptakan (to creat) dan membentuk (to shape) atau memberi bentuk (to give from).
5. Siswa/Peserta Didik
Menurut UU Sisdiknas Tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat (4) bahwa peserta didik/siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
6. SMP Negeri 3 Kuala Tungkal / Sekolah
Menurut Zakiah Darajat, “Sekolah adalah lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur, dan terencana”. Sekolah yang dimaksudkan disini adalah SMP Negeri 3 Kuala Tungkal yang beralamat di Jalan Jend. Sudirman Ujung Kelurahan Tungkal IV Kota Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Comments (0)

Poskan Komentar